Selasa, 14 Juli 2009

ghirah islam

Waspadai Islamofobia
Alam Islami
18/3/2008 | 11 Rabiul Awwal 1429 H | Hits: 613
Oleh: Tim dakwatuna.com
--------------------------------------------------------------------------------


dakwatuna.com – Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Konferensi Islam (KTT OKI) yang berlangsung di Dakar pada (13-14/03) lalu mengeluarkan salah satu butir kesepakatan tentang upaya menghapus dan menangkal gerakan islamofobia yang menyudutkan Islam dengan beragam label negatif.

Kesepakatan ini tentunya harus didukung penuh oleh umat Islam dan yang lebih penting adalah oleh para pemimpin dunia Islam, dengan agenda-agenda nyata pembelaan terhadap Islam. Baik lewat jalur diplomasi, kesungguhan dunia Islam menampilkan ajarannya dengan sejuk dan damai, bahkan penolakan secara keras terhadap penodaan Islam tersebut. Sebab, kalau hanya sebuah kesepakatan tanpa ada langkah kongkrit, maka yang terjadi adalah masih banyaknya penodaan terhadap Islam yang terjadi sampai hari ini. Salah satu contohnya adalah akan dibagikan buku yang menghina Islam di Amerika secara gratis.

Majalah pekanan Amerika Human Events yang berhaluan kanan dan dekat dengan kelompok neo konservative atau berafiliasi kepada partai Republik akan membagikan buku gratis kepada pelanggannya. Buku “The Truth About Muhammad “Hakikat Muhammad, penemu agama yang paling tidak toleran di dunia” yang ditulis oleh penulis Amerika berhaluan kanan ekstrim, Robert Spencer yang pernah diterbitkan pertama kali tahun 2006. Isi buku ini menghina Rasulullah saw dan mengaitkan agama Islam dengan terorisme. Padahal buku ini sebelumnya tidak laku di pasaran karena mendapat protes keras dari banyak akademisi dan pakar di bidang studi Islam.

Karen Amstrong dari Inggris, pengarang buku “Muhammad” menilai; buku “The Truth About Muhammad, ditulis dengan penuh kebencian dan banyak kesalahan besar dan tidak peduli dengan bukti-bukti sejarah.”. Sementara para pengamat menilai langkah Human Events ini sebagai aksi permusuhan.

Seorang penulis perempuan ekstrim Amerika Ane Colter mempromosikan buku ini. Ia pernah menulis tentang peristiwa 11 September bahwa Amerika harus menyerang negara-negara Islam dan memaksa penduduknya untuk memeluk kristen.

Pembagian buku ini sebagai salah satu rentetan propaganda pemburukan citra agama Islam dan melecehkan keyakinan-keyakinan umat Islam. Sebelumnya sejumlah harian Denmark memuat gambar kartun nabi Muhammad dengan nada menghina. Disamping itu, seorang anggota parlemen Belanda menyebarkan film pendek yang menghina Al-Quran pada bulan lalu. (dari berbagai sumber)

Senin, 06 April 2009

RPP

1

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Nama Sekolah :
Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Kelas/Semester : XII / 1
Pertemuan Ke : 1 (satu )
Waktu : 2 X 45 menit
Standar Kompetensi : Memahami ayat-ayat al tenta Al Quran tentang anjuran Toleransi
Kompetensi Dasar : Membaca QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29
Indikator : 1.1.1 bahwa siswa dapat menyebutkan hukum bacaan yang terdapat pada QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29
1.1.2 Siswa dapat menyebutkan hukum bacaan yang terdapat pada QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29
Materi Ajar (Materi Pokok) : 1. Bacaan QS Al Kafirun,
2. Bacaan QS Yunus : 40-41
3. Bacaan QS Al Kahfi : 29
Metode pembelajaran



Strategi pembelajaran :

: 1. Ceramah
2. Demontrasi
3. Tanya Jawab

Pembelajaran langsung
Tujuan Pembelajaran : Siswa dapat Membaca QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29
Langkah-langkah

a. Kegiatan Awal
1) Guru mengkondisikan kelas
2) Guru dan siswa membaca doa sebelum belajar
3) Siswa Menyiapkan Al Qur’an
4) Guru dan siswa tadarus bersama
5) Guru menjelaskan secara singkat materi yang akan diajarkan dengan kompetensi dasar yang akan dicapai
6) Mengemukakan tujuan pembelajaran membeca QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29

b. Kegiatan Inti
1.. Guru menjelaskan cara QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29 kalimat demi kalimat
2.. siswa melafalkan QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29 bersama-sama ( sacara klaksikal ) dua sampai tiga kali
3.. siswa melafalkan QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29 ayat demi ayat secara kelompok
4.. siwa melafalkan QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29
5.. Guru memperhatikan bacaan siswa sertaserta membetulkan jika masih salah dan melafalkan
6.. Siswa melafalkan QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29 secara berulang-ulang hingga terdengar dari setiap mereka bermakhrajul huruf yang benar
7.. Siswa berulang-ulang bacaan QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29 hingga benar
8.. Siswa secara individu mendemontrasikan bacaan QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29
9.. Guru bertannya kepada siswa tentang hukum bacaan yang terdapat pada QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29
10. Siswa secaara individu menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh guru tentang hukum bacaan yang terdapat QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29
11. Guru menjelaskan hukum bacaan yang terdapat QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29
12. Guru Mnganjurkan siswa agar selalu membaca Al Qur’an setiap hari dengan memperhatikan makhrajuk huruf dan hukum bacaan sesuai sesuia ilmu Tajwid




a. Kegiatan Akhir (Penutup)
1.. Guru mengulas kembali hasil pembeahasan bacaan QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29
2.. Guru mengumpulkan hasil bacaan QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29
3.. Guru meminta para siswa sekali lagi membaca QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29


Penilaian : tes lisan
Setiap siswa diminta untuk melafalkan bacaan QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29 dengan tujuan untuk melihat dan mendengar kemampuan siswa dalam membaca
Bahan/Sumber Belajar : INDONESIA, Departemen Agama (1996). Al-Qur’an dan terjemahannya. Yakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci.

Samsuri (2006 ) Pendidikan agama Islam Untuk SMA jilid 3 Jakarta. Erlangga




LEMBAR PENILAIAN
I. Tes Tertulis Nilai = .............
No. Butir – butir Soal Kunci Jawaban
1













2 Ada berpa mad jaiz yang terdapat pada surat
                 •             

Apa bila da mim sukun bertemu dengan mkaka dalam ilmu atwid di sebutبhuruf selain م





Ada 7







2. Idzar syafawi










II. Tes Perbuatan: membaca Surat Al Kahfi 29


No. Nama Siswa Kemampuan Membaca
1 2 3 4 5











Keterangan : Skor Tes Perbuatan :
1. = Membaca lancar dan baik = 80 – 90 = A
2. = Membaca lancar kurang baik = 70 – 79 = B
3. = Membaca Terbata-bata = 60 – 69 = C
4. = Membaca Terbata-bata dengan bantuan guru = 50 – 59 = D
5. = Tidak dapat membaca = kurang dari 50 = E

III. Portofolio
Tes pengalaman dilakukan dengan menggunakan portofolio dimana guru mencatat pengalaman agama berdasarkan antara lain:
- apa yang dilihat;
- laporan rekan guru dan pegawai lainnya; dan
- laporan dari orangtua murid atau siswa



















Mengetahui Semarang,............................................
Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran




…………………………………………. ................................................
NIP. NIP.




Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Nama Sekolah :
Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Kelas/Semester : XII / 1
Pertemuan Ke : 2 (sdua )
Waktu : 2 X 45 menit
Standar Kompetensi : Memahami ayat-ayat al tenta Al Quran tentang anjuran Toleransi
Kompetensi Dasar : Menjelaskan Arti QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29
Indikator : 1.2.1 Siswa dapat mengartikan perkata yang terdapat pada a QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29
1.1.3 12.2 Siswa dapat mengartikan per ayat yang terdapat pada QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29
Materi Ajar (Materi Pokok) : 1. Bacaan QS Al Kafirun,
2. Bacaan QS Yunus : 40-41
3. Bacaan QS Al Kahfi : 29
Metode pembelajaran


Strategi pembelajaran :


: Ceramah
Diskusi

Pembelajaran langsung
Tujuan Pembelajaran : Siswa dapat mengartikan perkata yang terdapat QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29
Langkah-langkah

a. Kegiatan Awal
1.. Guru mengkondisikan kelas
2.. Guru dan siswa membaca doa sebelum belajar
3.. Siswa Menyiapkan Al qur’an dan terjemah QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29
4.. Guru dan siswa tadarus bersama
5.. Guru menjelaskan secara singkat materi yang akan diajarkan dengan kompetensi dasar yang akan dicapai
6. Mengemukakan tujuan pembelajaran membeca QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29

b. Kegiatan Inti
1.. Siswa diberi tugas membentuk kelompok diskusi untuk mengartikan perkata dan per ayat QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29 kalimat demi kalimat
2.. masing –masing kelompok memperesntasikan hasil diskusinya tentang arti perkata per ayat QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29
3.. Guru dan siswa bersama-sama menyempurnakan arti perkata QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29


b. Kegiatan Akhir (Penutup)
1.. Guru meminta para siswa rajin membaca Al Qur’an dan mempelajari arti perkata maupun per ayat
2..Evaluasi


Penilaian : tes lisan
Setiap kelompok mengartikan per akat dan per ayat QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29
Bahan/Sumber Belajar : INDONESIA, Departemen Agama (1996). Al-Qur’an dan terjemahannya. Yakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci.

Samsuri (2006 ) Pendidikan agama Islam Untuk SMA jilid 3 Jakarta. Erlangga



LEMBAR PENILAIAN
I. Tes Tertulis Nilai = .............
No. Butir – butir Soal Kunci Jawaban
1













2 Artikan ayat berikut yang di agaris bawah
                 •         
Terjemahkan ayat berikut


 •    •                        


1. Katakanlah: "Hai orang-orang kafir,
2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
3. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah.
4. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
5. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah.
"


40. Di antara mereka ada orang-orang yang beriman kepada Al Quran, dan di antaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Tuhanmu lebih mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan.
41. Jika mereka mendustakan kamu, Maka Katakanlah: "Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. kamu berlepas diri terhadap apa yang Aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan".

II. Tes Perbuatan: membaca Surat Al Kahfi 29

No. Nama Siswa Kemampuan Membaca
1 2 3 4 5









Keterangan : Skor Tes Perbuatan :
1.. = Membaca lancar dan baik = 80 – 90 = A
2.. = Membaca lancar kurang baik = 70 – 79 = B
3.. = Membaca Terbata-bata = 60 – 69 = C
4.. = Membaca Terbata-bata dengan bantuan guru = 50 – 59 = D
5.. = Tidak dapat membaca = kurang dari 50 = E
III. Portofolio
Tes pengalaman dilakukan dengan menggunakan portofolio dimana guru mencatat pengalaman agama berdasarkan antara lain:
- apa yang dilihat;
- laporan rekan guru dan pegawai lainnya; dan
- laporan dari orangtua murid atau siswa





























Mengetahui Semarang,............................................
Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran





…… ................................................ .............................................................
NIP. NIP.


























Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Nama Sekolah :
Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Islam
Kelas/Semester : XII / 1
Pertemuan Ke : 3 (tiga )
Waktu : 2X 45 menit
Standar Kompetensi : Memahami ayat-ayat al tenta Al Quran tentang anjuran Toleransi
Kompetensi Dasar : Membiasakan berlaku toleransi seperti terkandung dalam i QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29
Indikator : 1.3.1. menunjukkan perilaku bertoleransi sesuai dengan QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29
13.2. mempraktekkan perilaku bertoleransi sesuai dengan QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29
Materi Ajar (Materi Pokok) : 1. Bacaan QS Al Kafirun, dan artinya
4. Bacaan QS Yunus : 40-41 dan artinya
5. Bacaan QS Al Kahfi : 29 adn artinya
Metode pembelajaran


Strategi pembelajaran :


: Ceramah
Demontrasi

Pembelajaran langsung
Tujuan Pembelajaran : Siswa dapat menunnjukkan dan mempraktekkan perilaku bertolarensi sesuai dengan QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29
Langkah-langkah

a. Kegiatan Awal
1.. Guru mengkondisikan kelas
2.. Guru dan siswa membaca doa sebelum belajar
3.. Siswa Menyiapkan buku pegangan
4.. Guru dan siswa menjelaskan secara singkat materi yang akan diajarkan dengan komptetensi dasar ayang akan dicapai
5.. menghubungkan pelajaran yang lalu dengan yang sekarang
6. Mengembangkan tujuan pembelajaran menunjukkan dan mempraktekkan perilaku bertoleransi sesui dengan QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29

b. Kegiatan Inti
1.. Guru menjelaskan pelajaran yang terkandung dalam peda ayat QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29
2..Siswa dapat menjelaskan pelajaran yang terkandung dalam ayat QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29
3.. Siswa dapat menjelaskan pelajaran yang terkandung pada ayat QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29 tentang perilaku bertoleransi sesui dengan QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29
4.. Siswa dapat mempraktekkan perilaku bertoleransi dengan mendemontrasikan di kelas sesui QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29
5.. Guru menganjurkan kepada siswa untuk dapat memahami dan mempraktekkan perilaku bertoleransi dan mempraktekkan perilaku bertoleransi dalam hidup bermasyarakat


c. Kegiatan Akhir (Penutup)
1.. Guru mengulang kembali pelajaran yang terkandung dalam QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29
2.. Guru meminta pada siswa untuk dapat mempraktekkan perintah QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29
3.. Guru meminta pada siswa untuk rajin mempelajari dan memahami kandungan yang ada dalam Al Qur’an, agar hidupnya selamat dan bahagia


Penilaian : 1. tes lisan
a.. Setiap siswa diminta untuk memberi contoh tentang perilaku bertoleransi sesuia dengan QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29
b.. Beberapa siswa diminta untuk menguraikan kembali pelajaran yang terkandung dalam QS Al Kafirun, QS Yunus : 40-41 dan QS Al Kahfi : 29

2.. Test Tertulis
Memberi soal tertulis kepada siswa
Bahan/Sumber Belajar : INDONESIA, Departemen Agama (1996). Al-Qur’an dan terjemahannya. Yakarta: Proyek Pengadaan Kitab Suci.

Samsuri (2006 ) Pendidikan agama Islam Untuk SMA jilid 3 Jakarta. Erlangga



LEMBAR PENILAIAN
I. Tes Tertulis Nilai = .............
No. Butir – butir Soal Kunci Jawaban
1








2





Apa maksud :
     
Terjemahkan ayat berikut




Berikancontoh perilaku bertoleransi dalam kehidupan bermasyarakat

Orang Islam beribadah sesui dengan ketentuan yang telah ada dan tidak boleh ikut beribadah agama non muslim begitu juga sebalikknya


Dalam hidup gotong royong ( sosial orang Islam tetap mau membantu menolong orang non muslim yang sedang berusaha begitu juga sebalikknya




II. Tes Perbuatan: membaca Surat Al Kahfi 29


No. Nama Siswa Kemampuan Membaca
1 2 3 4 5
a.
b.
c.
d.
e.
f. dst

Keterangan : Skor Tes Perbuatan :
1.. = Membaca lancar dan baik = 80 – 90 = A
2.. = Membaca lancar kurang baik = 70 – 79 = B
3.. = Membaca Terbata-bata = 60 – 69 = C
4.. = Membaca Terbata-bata dengan bantuan guru = 50 – 59 = D
5.. = Tidak dapat membaca = kurang dari 50 = E

III. Portofolio
Tes pengalaman dilakukan dengan menggunakan portofolio dimana guru mencatat pengalaman agama berdasarkan antara lain:
- apa yang dilihat;
- laporan rekan guru dan pegawai lainnya; dan
- laporan dari orangtua murid atau siswa





























Mengetahui Semarang,............................................
Kepala Sekolah Guru Mata Pelajaran




............................................... ................................................
NIP. NIP.















Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Rabu, 11 Februari 2009

serialULAMAbesar

Abbas bin Abdul Muththalib
Jumat, 04 Juni 04

"Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu, jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil darimu dan dia akan mengampuni kamu. Dan, Allah Maha Pemgampun lagi Maha Penyayang". (Q.,s. al-Anfaal : 7)

Menurut beberapa orang ahli tafsir, ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan Abbas bin Abdul Muththalib, Aqil bin Abdul Muththalib dan Naufal ibnu al-Harits.

Abbas bin Abdul Muththalib radhiallahu 'anhu

Ia adalah paman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan salah seorang yang paling akrab dihatinya dan yang paling dicintainya. Karena itu, beliau senantiasa berkata menegaskan, "Abbas adalah saudara kandung ayahku. Barangsiapa yang menyakiti Abbas sama dengan menyakitiku."

Di zaman Jahiliah, ia mengurus kemakmuran Masjidil Haram dan melayani minuman para jamaah haji. Seperti halnya ia akrab di hati Rasulullah, Rasulullah pun dekat sekali di hatinya. Ia pemah menjadi pembantu dan penasihat utamanya dalam bai'at al-Aqabah menghadapi kaum Anshar dari Madinah. Menurut sejarah, ia dilahirkan tiga tahun sebelum kedatangan Pasukan Gajah yang hendak menghancurkan Baitullah di Mekkah. Ibunya, Natilah binti Khabbab bin Kulaib, adalah seorang wanita Arab pertama yang mengenakan kelambu sutra pada Baitullah al-Haram.

Pada waktu Abbas masih anak-anak, ia pemah hilang. Sang ibu lalu bernazar, kalau puteranya itu ditemukan, ia akan mengenakan kelambu sutra pada Baitullah. Tak lama antaranya, Abbas ditemukan, maka iapun menepati nazamya itu

Istrinya terkenal dengan panggilan Ummul Fadhal (ibu Si Fadhal) karena anak sulungnya bemama al-Fadhal. Wajahnya tampan. Ia duduk dibelakang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau menunaikan haji wada'-nya. Ia meninggal dunia di Syam karena bencana penyakit amuas. Anak-anaknya yang lain sebagai berikut ; yaitu anak kedua, Abdullah, seorang ahli agama yang mendapat doa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, meninggal di Thaif. Ketiga, Qutsam, wajahnya mirip benar dengan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam . Ia pergi berjihad ke negeri Khurasan dan meninggal dunia di Samarkand. Keempat, Ma'bad, mati syahid di Afrika. Abdullah (bukan Abdullah yang pertama), orangnya baik, kaya,dan murah hati meninggal dunia di Madinah. Kelima, Puterinya, Ummu Habibah, tidak banyak dibicarakan oleh sejarah.

Para ahli sejarah berbeda keterangan tentang Islamnya Abbas. Ada yang mengatakan, sesudah penaklukkan Khaibar. Ada yang mengatakan, lama sebelum Perang Badar. Katamya, ia memberitakan kegiatan kaum musyrikin kepada Nabi di Madinah, dan kaum muslimin yang ada di Mekkah banyak mendapat dukungan dari beliau. Kabamya, ia pemah menyatakan keinginannya untuk hijrah ke Madinah, tapi Rasulullah menyatakan, "Kau lebih baik tinggal di Mekah ".

Keterangan kedua ini dikuatkan oleh keterangan Abu Rafi', pembantu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, "Pada waktu itu, ketika aku masih kanak-kanak, aku rnenjadi pembantu di rumah Abbas bin Abdul Muththalib. Ternyata, pada waktu itu, Islam sudah masuk ke dalam rumah tangganya. baik Abbas maupun Ummul Fadhal, keduanya sudah masuk Islam. Akan tetapi, Abbas takut kaumnya mengetahui dan terpecah-belah, lalu ia menyembunyikan keislamannya."

Ia selalu menemani Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di Ka'bah. Ka'ab bin Malik mengutarakan, "Kami (saya dan al-Barra' bin Ma'rur) mencari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Kami tidak tahu dan tidak mengenal Rasulullah sebelumnya. Kami bertemu dengan seorang penduduk kota Mekkah. Kami tanyakan di mana kami bisa menemui Rasulullah. Ia balik bertanya, 'Apakah kalian berdua mengenalnya?' Kami menjawab, 'Tidak!'. Ia lalu bertanya, 'Kalian mengenal Abbas bin Abdul Muththalib, pamannya?'

Kami menjawab, 'Ya!' Memang kami sudah mengenalnya karena ia sering datang ke negeri kami membawa dagangan.
Orang tadi lalu berkata, 'Kalau kalian masuk ke Masjidil Haram, orang yang duduk di sebelah Abbas itulah orang yang kalian cari!".

Kemudian, kami masuk ke Masjidil Haram. Ternyata, kami menemukan Abbas duduk di sana dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam duduk di sebelahnya".

Abbas radhiallahu 'anhu mempunyai peran penting yang tidak bisa diabaikan dalam baiat al-Aqabah. Ia orang pertama yang berpidato dalam majelis itu. Ia berkata :

"Wahai kaum Khazraj, (pada masa itu, suku al-Aus dan al-Khazraj dipanggil dengan al-Khazraj saja) kalian seperti yang saya ketahui telah mengundang datang Muhammad. Ketahuilah bahwa Muhammad itu orang yang paling mulia di tengah-tengah familinya. Ia dibela oleh orang orang yang sepaham dan orang-orang yang tidak sepaham dengan pikirannya demi memelihara nama baik keluarga. Muhammad sudah menolak tawaran orang lain selain kalian. Kalau kalian memiliki kekuatan, ketabahan, dan pengertian tentang ilmu peperangan, mempunyai kekuatan menghadapi persekutuan dan permusuhan seluruh bangsa Arab, karena mereka akan menyerang kalian dengan satu busur dan satu anak panah, maka camkanlah baik-baik terlebih dahulu, rembukkanlah antara kalian dengan mufakat dan sepakat bulat dalam majelis ini karena sebaik-baik bicara itu ialah yang jujur."

Kata-kata itu menunjukkan pengetahuannya yang luas dan pemikiran yang cerdas tentang berbagai persoalan. Ia ingin mengenali hakikat kaum Anshar dan membangkitkan kesiapsiagaan mereka. Ia lalu berkata lagi, "Cobalah kalian ceritakan kepadaku bagaimana kalian berperang menghadapi musuh?".

Abdullah bin Amru bin Haram bangkit memberikan jawaban, "Percayalah bahwa kami adalah ahli perang. Kami memperoleh keahlian itu berkat kebiasaan dan latihan kami dan berkat warisan nenek moyang kami. Kami lepaskan anak panah kami sampai habis, lalu kami mainkan tombak kami sampai patah, kemudian kami menyerang dengan pedang, berperang tanding hingga tewas atau menewaskan musuh kami".

Cerahlah wajah Abbas mendengarkan keterangan mereka itu dan amanlah rasanya untuk menyerahkan keponakannya itu, seorang yang paling dekat di hatinya. Seperti ada yang ia lupakan, ia berkata lagi, "Kalian mengatakan ahli peperangan. Apakah kalian mempunyai baju besi?".

"Ya, lengkap," jawab mereka.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian membaiat mereka dan Abbas mengambil tangan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mengukuhkan baiat itu.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berhijrah ke Yatsrib sedangkan Abbas tinggal di Mekah, mendengarkan berita Rasulullah dan kaum Muhajirin, dan mengirimkan berita-berita kaum Quraisy, hingga berkecamuknya Perang Badar. Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam, tahu bahwa Abbas dan keluarganya dipaksa keluar berperang oleh Quraisy sedangkan mereka tidak berdaya mengelak. Rasulullah bersabda, "Aku tahu ada orang-orang dari Bani Hasyim dan lain-lain yang terpaksa keluar. Mereka tidak mempunyai kepentingan untuk memerangi kami. Siapa di antara kalian yang menjumpai mereka, orang-orang dari Bani Hasyim, janganlah dibunuh; siapa yang menjumpai Abbas bin AbduI Muththalib, paman Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam., janganlah di bunuh karena ia keluar berperang karena terpaksa".

Keterangan Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam. itu tersebar luas di kalangan orang yang pergi ke Badar. Kaum mukminin menerima baik perintahnya itu. Kecuali Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi'ah, yang berucap dengan lantang, "Kami membunuh bapak kami, anak-anak kami, saudara-saudara dan keluarga kami, lalu kami akan membiarkan Abbas? Demi Allah, kalau aku menjumpainya, aku akan memancungnya dengan pedangku ini!"

Kata-katanya itu terdengar oleh Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam., lalu beliau berkata kepada Umar ibnul Khaththab, "Ya Aba Hafsah,ada juga orang yang mau menghantam wajah paman Rasullullah dengan pedangnya!"

"Biarkanlah, ya Rasulullah, aku penggal leher Abu Hudzaifah itu dengan pedangku ini. Demi Allah, dia itu seorang munafik," ucap Umar.

Akan tetapi, Rasulullah tidak membiarkan Umar bertindak membunuh kawan-kawanya yang bersalah. Beliau membiarkan mereka bertobat dan menebus dosanya masing-amsing. Ternayta, Abu hudzaifah sangat menyesali kata-katanya itu dan senantiasa mengulang-ulang perkataanya, "Demi Allah, rasanya hatiku tidak aman atas kata-kata yang pernah kaku yucapkan dahulu dan aku senantiasa dikejar-kejar rasa takut olehnya, sebelum Allah memberikan tebusan kepadaku dengan syahadah!" Ternyata, harapannya itu Allah penuhi, ia tewas sebagai syahid dalam Perang Yamamah.

Pada suatu hari, Abbas pergi berhijarah ke Medinah bersama Naufal ibnul Harits. Ahli sejarah berbeda pendapat tentang tarikh hijrahnya, namun mereka sependapat bahwa Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam.telah membemberikan sebidang tanah kepadanya berdekatan dengan tempat kediamannya.

Di Madinah terjadi pertengkaran antara seseorang dengan Abbas, yang berakar sejak zaman Jahiliah, di mana orang itu memaki-maki ayah Abbas. Gangguan orang itu terhadap Abbas terjadi berualng-ulang sehingga menyakitkan hatinya, lalu ia ditamparnya. Kabilah orang itu tidak senang hati, mereka siap-siap akan menuntut balas. Mereka berkata, "Demi Allah, kami akan menamparnya seperti ia menampar saudara kami!"

Ancaman mereka itu terdengar oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam , lalu beliau mengumpulkan kaum muslimin dan naik ke atas mimbar, seraya memanjatkan puja dan puji kepada Allah Subhânahu wata'âla dan bersabda, "Wahai para hadirin, tahukah kalian, siapa orang yang paling mulia di sisi Allah Subhânahu wata'âla?"

"Engkau, ya Rasulullah!" jawab hadirin.
"Tahukah kalian bahwa Abbas itu dariku dan aku darinya? Janganlah kalian mengumpat orang-orang yang sudah mati, jangan sampai menyakiti kita yang masih hidup."

Kabilah orang itu datang mengahadap Rasulullah seraya berkata, "Ya Rasulullah, kami mohon perlindungan Allah dari kegusaranmu, maafkanlah dosa kami, ya Rasulullah."

Pernyataan Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam tersebut menguatkan keterangan Abu Majas radhiallâhu 'anhu. tentang sabdanya, "Abbas adalah saudara kandung ayahku. Barangsiapa yang menyakitinya sama dengan menyakitiku."

Pada suatu hari, Abbas datang menghadap Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam. Dan bermohon dengan penuh harap, "Ya Rasulullah, apakah engkau tidak suka mengangkat aku menjadi pejabat pemerintahan?"

Berdasarkan pengalaman, ia seorang yang berpikiran cerdik, berpengetahuan luas, dan mengetahui liku-liku jiwa orang, namun Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam tidak ingin mengangkat pamannya menjadi kepala pemerintahan; ia tidak ingin pamannya dibebani tugas pemerintahan. Ia menjawab harapan pamannya itu dengan manis dan penuh pengertian, "Wahai paman Nabi, menyelamatkan sebuah jiwa lebih baik daripada menghitung-hitung jabatan pemerintahan."

Ternyata Abbas menerima dengan senang hati pendapat Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam., tetapi malah Ali bin Abi Thalib radhiallâhu 'anhu yang kurang puas. Ia lalu berkata kepada Abbas, "Kalau kau ditolak menjadi pejabat pemerintahan, mintalah diangkat menjadi pejabat pemungut sedekah!"

Sekali lagi Abbas menghadap Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam untuk meminta seperti yang dianjurkan Ali bin Abi Thalib itu, lalu Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda kepadanya ,"Wahai pamanku, tak mungkin aku mengangkatmu mengurusi cucian (kotoran) dosa orang."

Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam.seorang yang paling akrab dan paling kasih kepadanya, tidak mau mengangkatnya menjadi pejabat pemerintahan atau pengurus sedekah, bahkan ia tidak diberi kesemopatan dan harapan mengurusi soal-soal yang bersifat duniawi, tetapi menekannya supaya lebih menekuni soal-soal ukhrawi.

Untuk yang ketiga kalinya, pamannya itu datang menghadapnya dan berharap dengan penuh kerendahan hati, "Aku ini pamanmu, usiaku sudah lanjut, dan ajalku sudah hampir. Ajarilah aku sesuatu yang kiranya berguna bagiku di sisi Allah!"

Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam. Menjawab, "Ya Abbas, engkau pamanku dan aku tidak berdaya sedikitpun dalam masalah yang berkenaan dengan Allah, tetapi mohonlah selalu kepada Tuhanmu ampunan dan kesehatan!"

Sesudah Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam.menuiakan risalah Alalh Subhânahu wata'âla dengan baik, manyampaikan agamaNya yang lengkap kepada para pewarisnya, maka ia kembali ke rahmatullah dengan tenang. Ternyata Abbas orang yang paling merasa kesepian atas kepergiannya itu.

Abbas hidup terhormat di bawah pemerintrahan Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq, kemudian menyusul pemerintahan Umar ibnul Khaththab radhiallâhu 'anhu..

Tiap kali Khalifah hendak ke masjid ia selalu harus melewati rumah Abbas. Di atas rumahnya itu terdapat sebuah pancuran air. Pada suatu hari, ketika Khalifah Umar pergi ke masjid dengan pakaian rapi hendak menghadiri shalat jamaah, tiba-tiba pancuran air itu menumpahkan airnya dan mengenai pakaian Umat. Ia kembali pulang untuk mengganti pakaian dan memerintahkan supaya pancuran itu dibuka. Sesudah beliau selesai shalat, datanglah Abbas seraya berkata, "Demi Allah, pancuran itu diletakkan oleh Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam.."

Khalifah Umar menjawab, "Aku mohon kepadamu supaya engkau memasang kembali pancuran itu di tempat yang diletakkan oleh Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam dengan menaiki pundakku."

Abbas menerima baik harapan Umar untuk memperbaiki kesalahannya itu.
Abbas tidak marah, tidak mendendam di dalam hati, tetapi ia mengingatkan Umar bahwa yang meletakkan pancuran itu Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam. Hati Umar yang terkenal keras dan kuat-kuat tiba-tiba bergetar ketakutan, bagaimana ia memerintahkan mencabut apa yang dipasang Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam. Ia rela menebus kesalahannya itu dengan menyuruh Abbas menaiki pundaknya untuk mengembalikan pancuran air itu ketempatnya semula. Setelah itu, ia memberikan ciuman cinta dan pengharagaan kepada paman Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam itu.

Masjid Nabawi di Madinah kian hari kian menjadi kecil karena bilangan kaum muslimin dari hari ke hari makin bertambah dengan pesatnya. Khalifah Umar berpikir akan memperluasnya dengna membeli rumah-rumah yang ada di sekitar masjid itu. Semua bangunan yang ada disekitarnya sudah dibeli kecuali rumah Abbas bin Abdullah Muththalib. Apa mungkin ia menyumbangkan harganya kelak di Baitulmal ataukah ia akan menerima harga ganti ruginya?

Khalifah Umar datang menemuinya seraya berkata, "Ya Abal Fadhal, engkau lihat, masjid sudah sempit sekali karena banyaknya orang shalat di dalamnya. Aku sudah memerintahkan untuk membeli tanah dan bangunan yang ada disekitarnya untuk memperbesar bangunan masjid, kecuali rumahmu dan kamar-kamar Ummahatul Mu'minin yang belum. Kalau kamar-akmar Ummuhatul Mu'minin rasanya tidak mungkin kami membeli dan membongkarnya, tapi rumahmu jual-lah kepada kami berapa pun yang engkau kehendaki dari Baitulmal supaya bisa meluaskan bangunan masjid."

Abbas menjawab, "Aku tidak mau."
Umar berkata; "Pilihlah satu diantara tiga: engkau menjual berapa pun yang engkau kehendaki dari Baitulmal, atau aku akan menggantinya dengan bangunan lain yang akan aku bangunkan untukmu dari Baitulmal di daerah manapun di Madinah yang engkau kehendaki, atau engkau berikan sebagai sedekah kepada muslimin untuk meluaskan masjid mereka."

Abbas berkeras, "Aku tidak mau terima semaunya."
Umar berharap, "Angkatlah seorang penengah antara kami berdua kalau engkau mau.'
Abbas menjawab, "Aku setuju mengangkat Ubai bin Ka'ab."

Keduanya pergi menemui Ubai bin Ka'ab, lalu kepadanya diceritakan segala sesuatunya dan dimintai pendapatnya.

Ubai berkata, "Aku mendengar Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda, "Allah Subhânahu wata'âla pernah mewahyukan kepada Nabi Daud, 'Bangunlah untuk-Ku sebuah rumah tempat orang-orang menyebut nama-Ku di sana.' Nabi Daud lalu merencanakan pembangunannya di Baitul Maqdis. Dalam perencanaan itu mengenai rumah seorang Bani Israel. Nabi Daud menawarkan kepada orang itu untuk menjual rumahnya, tapi ia menolak. Tiba-tiba terpikir dalam benak Nabi Daud untuk mengambilnya dengan paksa. Allah Subhânahu wata'âla lalu mewahyukan kepadanya, 'Hai Daud, aku menyuruhmu membangun untuk-Ku sebuah rumah tempat orang menyebut nama-Ku pemaksaan itu bukan watak-Ku. Karena itu, sebagai sanksinya, kau tidak usah membangunnya!' Nabi Daud menjawab, 'Ya Allah, aku lakukan pada anakku!' Allah berfirman lagi, 'Siapa anakmu?""

Khafilah Umar tidak bisa lagi menahan marahnya, lalu ia menyambar baju Ubai bin Ka'ab dan menggiringnya ke masjid seraya berkata, "Aku mengharapkan dukunganmu, malah kau menyudutkan aku. Kau harus membuktikan keteranganmu di hadapan kaum muslimin!"

Ia membawanya ke tengah-tengah halaqah yang diselenggarakan shahabat Rasulullah di masjid Nabawi, dimana antara lain terdapat Abu Dzar radhiallâhu 'anhu.Umar lalu berkata kepada para hadirin, "Saya mengharap dengan nama Allah, adakah diantara kalian yang mendengarkan Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam.berbicara tentang Baitul Maqdis, ketika Alalh memerintahkan Nabi Daud untuk mendirikan rumah-Nya tempat orang menyebut-nyebut namaNya?"

Abu Dzar radhiallâhu 'anhu menjawab' "Ya, saya mendengar!" Disambut oleh yang lain, "Ya, saya juga mendengar!" Dari sudut sana ada pula yang menyambung, "Saya juga mendengar!"

Khalifah Umar radhiallâhu 'anhu lalu berkata kepada Abbas radhiallâhu 'anhu, "pergilah! Aku tidak akan menuntutmu membongkar rumahmu."

Abbas radhiallâhu 'anhu berkata, "Kalau demikian sikapmu maka aku menyatakan bahwa rumahku kusedekahkan untuk kepentingan kaum muslimin. Silahkan perluas masjid mereka. Akan tetapi, kalau kau akan mengambilnya dengan tekanan dan pemaksaan, aku tidak akan mengalah."

Memang Khalifah Umar radhiallâhu 'anhu bertindak setengah memaksa karena proyek itu menyangkut kepentingan kaum muslimin dan dianggap tidak bertentangan dengan hukum Allah. Akan tetapi, apabila ada nash jelas maka tidak berlaku ijtihadnya. Ia harus tunduk dan menerima baik syariat Allah dan RasulNya. Sesudah Abbas melihat ketundukan Khalifah Umar kepada hukum dan perundang-undangan, ia tidak lagi mengandalkan kekuasaannya selaku kepala pemerintahan atau akan merampas haknya yang dijamin oleh undang-undang dan dilindungi oleh Islam, tetapi ia benar-benar berjuang demi kesehjahteraan kaum muslimin, maka ia pun memutuskan untuk menyerahkan rumahnya itu sebagai hibah dan sedekah untuk meluaskan masjid kaum muslimin.

Demikian tokoh-tokoh model "sekolah Rasulullah" dan "sekolah Al-Qur'anul Karim" radhiallahu 'anhum ajma'in. Mereka angkatan kaum muslimin yang pertama, yang telah membawa panji Islam ke seluruh jagat raya ini, yang telah membangkitkan peradaban umat manusia, yang mengajar dan mendidik manusia maju dan mengenali peradaban antara agama kebenaran dan kebatilan.

Pada suatu hari dalam pemerintahan Khalifah Umar, terjadilah paceklik hebat dan kemarau ganas. Orang-orang berdatangan kepada Khalifah untuk mengadukan kesulitan dan kelaparan yang melanda daerahnya masing-masing. Umar menganjurkan kepada muslimin yang berkemampuan supaya mengulurkan tangan membantu saudara-saudaranya yang ditimpa kekurangan dan kelaparan itu. Kepada para penguasa di daerah diperintahkan supaya mengirimkan kelebihan daerahnya ke pusat. Ka'ab masuk menemui Khalifah Umar seraya mengutrarakan, "Ya Amirul Mukminin, biasanya Bani Israel kalau menghadapi bencana semacam ini, mereka meminta hujan dengan kelompok para nabi mereka."

Umar berakta, "Ini dia paman Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam.dan saudara kandung ayahnya. Lagi pula, ia pimpinan bani Hasyim."

Khalifah Umar pergi kepada Abbas dan menceritakan kesulitan besar yang dialami umat akibat kemarau panjang dan paceklik itu, kemudian ia naik mimbar bersama Abbas seraya berdoa, "Ya Allah, kami menghadapkan diri kepadaMu bersama dengan paman Nabi kami dan saudara kandung ayahnya, maka turunkanlah hujan-Mu dan janganlah kami sampai putus asa!"

Abbas lalu meneruskan, memulai doanya dengan puja dan puji kepada Allah Subhânahu wata'âla, "Ya Allah, Engkau yang mempunyai awan dan Engkau pula yang mempunyai air. Sebarkanlah awan-Mu dan turunkanlah air-Mu kepada kami. Hidupkanlah semua tumbuh-tumbuhan dan suburkanlah semua air susu".

Ya Allah, Engkau tidak mungkin menurunkan bencana kecuali karena dosa dan Engkau tidak akan mengangkat bencana kecuali karena tobat. Kini, umat ini sudah menghadapkan dirinya kepada-Mu maka turunkanlah hujan kepada kami. Ya Allah, kami memohon belas kasih-Mu atas nama diri kami dan keluarga kami. Ya Allah, kami memohon belas kasih-Mu atas nama makhluk-Mu yang tidak bicara, atas nama hewan ternak kami. Ya Allah, hujanilah kami dengan hujan keselamatan yang berdaya guna. Ya Allah, kami mengadukan semua bencana orang yang menderita kelaparan, telanjang, ketakutan, dan semua orang yang menderita kelemahan. Ya Allah selamatkan mereka dengan hujan-Mu sebelum mereka berputus asa dan celaka. Sesungguhnya, tidak akan berputus asa dengan rahmat karunia-Mu kecuali orang-orang yang kafir."

Ternyata doanya itu langsung diterima dan disambut Allah Subhânahu wata'âla. Hujan lebat turun dan tumbuh-tumbuhan tumbuh dengan suburnya. Orang-orang bersyukur kepada Allah Subhânahu wata'âla dan mengucapkan selamat kepada Abbas, "Selamat kepadamu, wahai Saqil Haramain, yang mengurusi minuman orang di Mekah dan Madinah."

Abbas hidup terhormat, baik oleh kaum muslimin maupun oleh para Khulafaur Rasyidin. Kalau ia berjalan dan berpapasan dengan Umar atau Utsman yang sedang berkendaraan, keduanya turun dari kendaraannya, seraya berkata, "Paman Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam.!"

Sudah menjadi sunnatullah, setiap permulaan ada penghabisannya, setiap perjalanan ada perhentiannya, demikian pula dengan Abbas radhiallâhu 'anhu, perjalanan hidupnya terhenti dan kembali ke rahmatullah menyusul keponakkannya Shallallâhu 'alaihi wasallam dan rekan-rekannya yang lain, pada hari Jumat tanggal 12 Rajab 32 Hijrah, dalam usia 82 tahun, dan dikebumikan di al-Baqi' di Madinah, rahimullah wa radhiallahu'anhu.

Sebab Turunya Ayat

Dalam Perang Badar yang berkecamuk antara kaum muslimin dan kaum musyrikin, Abbas berhasil ditawan oleh Abul Yusr, Ka'ab bin Amru, yang menurut Ahli sejarah kedua tangannya kurus dan perawakannya juga lemah, sedangkan Abbas seorang yang tinggi besar. Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam bertanya keheranan, "Ya Abal Yusr, bagaimana kau bisa menawan Abbas?"

"Ya Rasulullah, aku dibantu oleh seorang yang belum pernah kulihat sebelum dan sesudah itu (lalu ia mengutarakan ciri-ciri dan perawakan orang itu)," jawab Abul Yusr.

"Kau dibantu oleh seorang malaikat yang pemurah," sabda Rasulullah.
Ketika Abbas jatuh sebagai tawanan, pertanyaan pertama yang terlontar adalah tentang keadaan Muhammad kepada yang menawannya, "Bagaimana keadaan Muhammad dalam peperangan ini?"

"Allah memuliakan dan menenangkannya," jawabnya.
"Segala sesuatu selain Allah rusak. Kini, apa maumu?" tanya Abbas
"Rasulullah melarang kami membunuhmu," jawabnya.
"Itu bukan kebaikannya yang pertama."

Abbas diborgol dan dikumpulkan bersama tawanan perang lainya. Kiranya, ikatannya terlalu keras sehingga ia merintih kesakitan. Ternyata rintihan itu terdengar oleh Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam. Beliau gelisah dan tidak bisa memejamkan matanya. Berapa orang shahabat yang melihatnya belum tidur, menegurnya, "Wahai Nabi Allah, sudah jauh malam, engkau belum tidur?"

"Aku mendengar riuntihan Abbas," jawab Nabi.
Orang itu lalu pergi melonggarkan ikatannya, kemudian Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam.bertanya lagi, "Mengapa sekarang aku tidak mendengarkan rintihannya?"

"Aku longgarkan ikatannya, ya Rasulullah," jawab shahabat
"Lakukanlah juga terhadap semua tawanan lainnya," perintah Nabi.

Pagi harinya, semua tawanan dihadapkan kepada Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam. Akhirnya, sampai giliran Abbas.
Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam bersabda, "Ya Abbas, tebuslah dirimu dan keponakanmu aqil bin Abi Thalib, Naufal bin al-Harits, dan teman karibmu Utbah bin Amru bin Jahdam karena engkau seorang kaya."

"Ya Rasulullah, saya ini seorang Muslim, tetapi saya dipaksa ikut berperang oleh mereka," ucap Abbas.
"Allah saja yang Maha Tahu dengan keislamanmu itu: kalau pengakuanmu itu benar, Allah akan mengganjarmu, namun aku melihatmu dari segi lahirmu maka bayarlah tebusanmu itu."
'Aku tidak mempunyai uang, ya Rasulullah."

"Mana uang yang kau simpan pada Ummul Fadhal, isterimu, ketika kau hendak keluar ikut berperang, lalu pesanmu kepadanya, 'Kalau aku tewas dalam peperangan, uang itu dibagi-bagikan antara kau, Fadhal, Abdullah, Ubaidullah, dan Qatsam.'?" tanya Rasulullah.

"Dari mana kau tahu ini padahal aku tidak pernah memberitahukan hal itu kepada siapa pun?" tanya Abbas keheranan.
"Allah Subhânahu wata'âla Yang memberitahukan rahasiamu itu," jawab Nabi.
"Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan engkau benar-benar rasul Allah, bahwa kau seorang yang jujur."

Pada saat itu, turunlah firman Allah Subhânahu wata'âla.
"Hai Nabi, katakanlah kepada tawanan-tawanan yang ada di tanganmu:"Jika Allah mengetahui ada kebaikan dalam hatimu, niscaya Dia akan memberikan kepadamu yang lebih baik dari apa yang telah diambil daripadamu dan Dia akan mengampuni kamu". Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.,S. al-Anfal: 70)

Abbas berkomentar, "Allah berkenan menepati janji-Nya kepadaku, memberikan kebaikan lebih dari apa yang diambil: 20 uqiyah diganti dengan 20 orang budak. Kini, aku sedang menantikan pengampun-Nya. Aku diberi kuasa mengurus air zamzam dan aku bisa merasa bangga lebih dari itu, meskipun aku memiliki semua harta penduduk kota Mekkah. Kini, aku sedang menantikan pengampunan-Nya."

Akan tetapi, darimana ia memiliki harta bila membeli dua puluh orang budak dan tiap budak memiliki modal edar yang diperdagangkan?
Ibnu Sa'ad dalam bukunya, ath-Thabaqat al-kubra, menyebutkan bahwa al-Ala' bin al-Hadhrami mengirimkan kepada Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam. Harta benda sebanyak 80.000. Belum pernah Nabi menerima lebih dari itu. Kemudian Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam mengundang kaum muslimin. Begitu mereka melihat timbunan harta itu, penuh sesaklah masjid dengan orang-orang. Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam membagi-bagikan hartra itu seolah-olah tanpa perhitungan dan pertimbangan, masing-masing diberikan segenggam.

Abbas datang, lalu berkata kepada Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam., "Ya Rasulullah, aku telah memberikan tebusanku dan tebusan Aqil bin Abi Thalib dalam perang Badar. Aqil tidak punya uang penggantinya. Berikan aku dari uang ini!"

Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam tertawa lebar sehingga terlihat gigi taringnya, lalu bersabda, "Harta itu diambil seperlunya; yang lain dikembalikan!"

Ia lalu pergi dengan mengambil seperlunya, seraya berucap, "Janji Allah kepadaku, yang satu sudah ditepati dan yang lain aku belum tahu!"

Renungan

Abas bin Abdul Muththalib radhiallâhu 'anhu, paman Rasululah Shallallâhu 'alaihi wasallam dan saudara kandung ayahnya, termasuk salah seorang tokoh shahabat yang ikut mengibarkan panji Islam dan menyebarkan dakwahnya.

Sepak terjangnya dicatat sejarah dengan tinta emas dalam baiat al-Aqabah al-Kubra, ia bertindak sebagai seorang penasihat dan perunding ahli, menyertai keponakannya dalam majelis itu, membentangkan sikapnya dengan tepat, dan mengamati sikap kaum Anshar yang hendak menerima kedatangannya ke Madinah dengan cermat.

Ia memberikan gambaran kepada mereka akan bahaya dan resiko yang akan mereka hadapi sepanjang hidup mereka jika menerima Muhammad Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam. Bangsa Arab tidak akan membiarkan Muhammad dan dakwahnya berkembang dengan mulus kecuali kalau mereka terpaksa.

Pada akhir perundingan, sesudah ia yakin bahwa kaum Anshar dari Yastrib itu terdiri atas para pahlawan yang berbudi luhur yang bisa dipercaya dan menerima keponakannya, barulah ia bangkit mempertemukan tangan Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam dengan tangan wakil kaum Anshar itu sebagai tanda baiat disetujui dan janji setia dimulai, disertai doa harap kepada Allah Subhanahu wata'ala mudah-mudahan persekutuannya yang luhur akan melindungi agama-Nya dan Dia memberi taufiq dan hidayah-Nya.

Ketika Nabi Shallallâhu 'alaihi wasallam. Hijrah ke Yastrib, Abbas menyatakan hasratnya akan menyusul ke sana. Akan tetapi, beliau mencegahnya dan menganjurkan supaya tinggal di Makkah saja dulu supaya bisa mendukung semangat kaum mustadh'afin di Mekah yang belum bisa hijrah meninggalkan Mekah.

Abbas patuh kepada perintah Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam. Itu. ia tinggal di Mekkah bersama kelompok kaum muslimin yang belum sanggup pergi berhijrah, menyiapkan kesempatan dan bekal mereka, menutup utang-utang mereka, mengamati gerak-gerik kaum Quraisy supaya selalu diketahui Rasulullah Shallallâhu 'alaihi wasallam.dan tidak bisa mengadakan serangan mendadak kepada mereka.

Pada permulaan Islam, Abbas banyak melunasi utan kaum muslimin yang fakir misjkin. Pada zaman kita sekarang ini, alangkah perlunya kita kepada seorang Abbas modern yang sudi menyelamatkan umat agar tidak menjadi mangsa pengikut komunis dan kapitalis Barat, dan berdiri tegak membendung invasi ideologi dan kristenisasi di kalangan kaum muslimin.

Ia menjadi tawanan dalam Perang Badar, ia diborgol dan diringkus bersama tawanan yang lain. Ketika borgolnya dilonggarkan, para tawanan yang lain pun harus dilonggarkan.

Tawanan lain harus, membayar uang tebusan, Abbas pun harus membayar uang tebusan diri dan keluarganya. Itulah Islam, tidak ada sistem famili atau keluarga, tidak mengutamakan kawan atau kenalan. Tolak ukur keutamaan seseorang hanyalah karena ketakwaan dan amal salehnya.

Pada suatu hari, Khalifah Umar ibnul Khaththab yang terkenal sebagai penakluk kekaisaran Romawi dan Persia itu, mencabut pancuran air dari rumah Abbas. Sesudah diberitahukan bahwa pancuran itu dahulu dipasang oleh kedua tangan Rasulullah sendiri. Umar menggigil ketakutan; apakah ia akan menyingkirkan apa yang diletakkan Rasulullah? Beranikah ia membongkar apa yang dibangun Rasulullah? Umar resah dan gelisah atas perbuatannya. Ia mengumpat dan mengutuk kelancangannya itu. Barulah ia puas sesudah Abbas menerima baik sarannya untuk mengembalikan pemasangan pancuran.

Tiba giliran Umar untuk memperluas masjid Nabawi. Sebagai khalifah kaum muslimin, sebagai panglima Angkatan Perang Islam, ia mempunyai kekuatan penuh untuk merampas dan mengganti rugi dari Baitul mal, demi kepentingan kaum muslimin, selama tidak bertentangan dengan hukum agama.

Sikap Umar untuk menggusur rumah Abbas itu rupanya kurang berkenan di hatinya, meskipun ia akan diganti rugi. Ia tidak mau menjual apa yang diberikan Rasulullah itu dan tidak sudi menerima ganti ruginya. Ia berikan sebagai sedekah karena Allah, demi kepentingan kaum muslimin, sesudah Umar bersikap lemah-lembut tidak disertai paksaan dan kekuasaannya.

SERIALulamaBESAR

serial

i

Selasa, 10 Februari 2009

KHUTBAH

PEMBERDAYAAN KELUARGA DALAM MENAGGULANGI NARKOBA

الحمدلله الذي امرنا بالطاعة ونهانا عن المعصية اشهد ان لاالاالله وحده لاشريك له واشهدان محمداعبده ورسو له لانبي بعده. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمدابن عبدالله وعلى اله وصحبه ومن والاه ( امابعد )
فيايهاالناس اوصيكم ونفسي بتقوى الله فقدفازالمتقون. قال الله تعالى في كتابه الكريم - اعوذ بالله من الشيطا ن الرجيم يا يها الذين امنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون

Hadirin Sidang Jum'ah yang berbahagia :

Dalam pandanagan agama islam, keluarga adalah "Umat Kecil" yang memiliki pimpinan dan pembagian tugas dan kerja serta hak dan kewajiban bagi masing-masing anggotanya. Pada kesempatan khutbah jumah hari ini, tema khutbah yang akan disampaikan mengenai beberapa hal terkait dengan pemberdayaan keluarga dalam menanggulangi narkoba.
Membahas pemberdayaan keluarga berarti mengurai potensi potensi yang ada dalam keluarga, tentunya dalam rangka mencapai makna kehidupan keluarga untuk mencapai kemaslahatan bersama, karena sebagai unit masyarakat terkecil, memikirkan keadaan generasi yang akan datang merupakan tanggung jawab bersama. Generasi yang dimaksud adalah generasi yang akan mengalami perubahan dan perkembangan situasi yang akan banyak mempengaruhinya. Generasi yang akan datang harus diikhtiarkan, tetap menjelma menjadi generasi yang memiliki sifat insan kamil yaitu manusia paripurna. Sebuah generasi yang mampu membina kemaslahatan keluarga (mashaalihul usroh) dan pengembangan kemaslahatan umum, (mashaalihul ummah).
Pemikiran yang muncul tentang generasi mendatang, tidak bisa lain kecuali mempersiapkan konsep yang tetap "Qaulan Sadiidan" dan dengan landasan semata-mata hanya karena taqwa kepada Allah SWT. Sebagaimana dalam QS An Nisa ayat 9 disebutkan :

واليخش الذين لوتركوامن خلفهم ذرية ضعفا خافواعليهم فليتقواالله وليقولوا قولا سديدا

Artinya : "….. dan hendaklah takut kepada Allah, orang–orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir akan (Kesejahteraan) mereka. Maka bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah kata-kata yang benar, qaulan sadida."
Kesejahteraan dan kemaslahatan yang dimaksud dalam ayat tersebut bukanlah semata-mata kemaslahatan material atau yang bersifat jasmaniah belaka. Kemaslahatan yang dimaksud juga meliputi kemaslahatan rukhiyah diniyah. Kalau ketiadaan kemaslahatan yang bersifat duniawi saja harus ditakuti, maka ketiadaan kemaslahatan yang bersifat ukhrowi wajib lebih ditakuti. Sebab tidak ada kesengsaraan yang lebih celaka dari pada kesengsaraan ukhrowi.
Kemaslahatan yang dikehendaki adalah yang seimbang diantara segenap seginya. Baik segi moril dan materiil, dari segi mental maupun spiritual, baik segi duniawiyah maupun ukhrowiyah syar'iyah. Kemaslahatan itupun harus menyeluruh meliputi orang tua dan anak serta kemampuannya berlangsung atas dasar keseimbangan antara hak dan kewajiban. Baik hak dan kewajiban terhadap diri pribadi dan masyarakat maupun hak dan kewajiban terhadap Allah SWT. Oleh karena itu memberdayakan keluarga untuk menanggulangi narkoba menjadi sangat penting bagi kita semua.
Perubahan-perubahan yang dianggap akan mempengaruhi keadaan di masa mendatang baik dalam lingkunag keluarga, bangsa maupun ummat manusia di dunia adalah masalah-masalah ekonomi, social, kependudukan. Lingkungan. Penghayatan terhadap ajaran agama, tata nilai, kebudayaan, politik dan tata hubungan antara masyarakat mendatang yang dicita-citakan, terkait dengan pembinaan masyarakat dimulai dari bentuk paling kecil yaitu pembinaan keluarga yang maslahah (mashaalihul usroh) melalui proses pendidikan. Disini peranan penting pemberdayaan keluarga dalam menanggulangi narkoba.


Hadirin Sidang Jum'ah yang berbahagia :

Pemberdayaan keluarga merupakan cara yang efektif dalam menanggulangi narkoba. Pemberdayaan adalah kristalisasi dari konsep " Tahu ", " Mau ", dan " Mampu ".
Konsep Tahu merupakan pengetahuan dan pemahaman mengenai kondisi lingkungan terkait dengan penyalahgunaan narkoba yang telah banyak terjadi.
Konsep Mau dalam pengertian bahwa adanya kesadaran mengenai efek yang bisa ditimbulkan dari penyalahgunaan narkoba tersebut bisa barakibat fatal bagi kesehatan fisik dan mental manusia, oleh karenanya seseorang mau

Konsep Mampu dalam pengertian mempunyai kesempatan dan kemampuan untuk menanggulangi permasalahan penyalahgunaan narkoba tersebut, sehingga efek dari penyalahgunaan tersebut tidak menyebarluas ke kalangan lain.
Pengetahuan, Kemauan dan Kemampuan dalam menanggulangi narkoba tersebut dijabarkan dalam kehidupan sehari-hari diantaranya dengan merencanakan kegiatan yang perlu dilakukan keluarga untuk mendukung upaya penanggulangan narkoba dari lingkup masyarakat yang paling kecil yaitu keluarga, diantaranya dengan melakukan hal-hal sebagai berikut :

1. Menciptakan rumah (keluarga) yang sehat dan harmonis.
Suasana keluarga yang kondusif dan hubungan yang harmonis adalah factor yang menyebabkan pertumbuhan kejiwaan anggota keluarga akan berjalan dengan baik, sebaliknya suasana yang tidak kondusif dan komunikasi yang kurang harmonis diantara keluarga menyebabkan broken heart yang berakibat pada ketidakpuasan anggota keluarga, terutama anak-anak dalam mensikapi kondisi keluarganya. Faktor keluarga ini merupakan salah satu penyebab terjadinya penyalahgunaan narkoba sebagai bagian dari pencarian ketenangan dan ekspresi ketidakpuasan atas kondidi keluarga.

2. Mengasuh dan mendidik anak dengan baik
Pendidikan adalah factor penting dalam pembinaan keluarga, pendidikan yang baik akan mengantarkan anak-anak dan anggota keluarga memperoleh pengetahuan mengenai sisi positif dan negative pengunaan narkoba bagi manusia oleh karenanya pendidikan harus dimulai dalam berbagai bentuk dan cara yaitu :

a. Pendidikan agama sejak dini
Pendidikan agama disamping bertujuan agar supaya anak-anak dan remaja mengenal dan memahami norma, kaidah, nilai-nilai, peraturan dan seluruh ajaran islam, bersamaan dengan itu ia juga bersungguh-sungguh agar supaya anak-anak dan remaja tersebut aktif dan taat melaksanakan norma-norma agama islam secara menyeluruh dan konsisten.
b. Pendidikan dilingkungan keluarga
Rumah adalah unit terkecil masyarakat yang merupakan tempat pertama kali bagi nak-anak memperoleh pendidikan dan mengenal nilai-nilai sejak dilahirkan.
c. Pendidikan agama islam bagi anak-anak pra sekolah
Pendidikan anak balita berfungsi untuk menanamkan fondasi agama islam yang kuat dan memudahkan upaya transfer nilai-nilai agama islam yang lebih komplek pada usia selanjutnya, agar supaya mereka bisa tumbuh menjadi kader-kader bangsa Indonesia yang terampil, berilmu pengetahuan yang tinggi dan luas serta berakhlaq budi pekerti yang mulia.
d. Pendidikan agama di sekolah
Sekolah adalah tempat berinteraksi antara guru dan murid dalam proses belajar mengajar sehingga terciptalah masyarakat belajar yang bertujuan menumbuh kembangkan dan membentuk kepribadian, pengetahuan dan ketrampilan anak didik yang kelak akan tumbuh menjadi manusia seutuhnya.
e. Pendidikan agama di luar sekolah
Yang dimaksud dengan pendidikan luar sekolah adalah tiap kesempatan terjadinya komunikasi yang teratur dan terarah diluar sekolah sehingga seseorang mendapatkan informasi, ilmu pengetahuan, latihan maupun bimbingan sesuai dengan tujuan, usia mereka dengan tujuan mengembangkan tingkat ketrampilan, sikap dan nilai-nilai yang sangat dibutuhkan oleh para peserta dan pelakunya untuk meningkatkan peranan dan kehidupan mereka dilingkungan keluarga, masyarakat, tempat kerja serta lahan kiprah mereka di dunia lainnya.

Hadirin Sidang Jum'ah yang berbahagia :

Penanggulangan masalah penyalahgunaan narkoba sudah seharusnya menjadi tanggung jawab kita bersama, sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga keluarga kita sendiri dari penyalahgunaan narkoba, oleh karena itu saudara-saudaraku kaum muslimin yang dirahmati Allah, marilah kita mulai dengan menginformasikan dan mendiskusikan dengan anggota keluarga kita, bagaimana cara penaggulangan yang efektif dan efesien atas permasalahan seperti ini. Budayakanlah keluarga kita untuk turut membantu menaggulanginya. Semoga kita termasuk orang yang berdaya dan mampu untuk menanggulangi permasalahan kita bersama. Amin ya rabbal alamin.

بارك الله لي ولكم في القران الكريم ونفعني واياكم بالايات والذكرالحكيم انه هو السميع العليم فاستغفرالله العظيم لي ولكم انه هو الغفورالحيم

Rabu, 04 Februari 2009

KASIH SAYANG GURU TERHADAP MURID

رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنَّهُ قَالَ : مَنِ اسْتَخَفَّ بِاُسْتَاذِهِ اِبْتَلاَهُ اللهُ بِثَلاَ ثَةِ اَشْيَاءَ : نَسِيَ مَا حَفِظَ وَكَلَّ لِسَانُهُ وَافْتَقَرَ اَخِرُهُ ( سلام الفضلاء، صحفة : ٨٤)

DICERITAKAN DARI NABI MUHAMMAD SAW SESUNGGUHNYA BELIAU BERSABDA, BARANGSIAPA YANG MEREMEHKAN KEPADA GURUNYA MAKA ALLAH AKAM MEMBERIKAN KEPADANYA TIGA COBAAN : AKAN LUPA ATAS SEGALA YANG IA HAFALKAN, TUMPUL LISANNYA, PADA AKHIRNYA IA AKAN MENJADI ORANG FAKIR